Suka Mager ? Germas Solusinya

Oleh : Septa Adhi Prasetya

Aparatur Sipil Negara (ASN) Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kesehatan

 

Gaya hidup sedentary (tidak aktif) adalah gaya hidup di mana seseorang kurang dalam aktivitas fisik. Kata lain atau bahasa gampangnya, kurang gerak atau malas gerak (mager). Saat ini, istilah tersebut sedang menjadi isu penting di tengah masyarakat. Apa pasalnya?

 

Ini bermula dari pesatnya perkembangan teknologi, yang ditengarai menjadi salah satu faktor penyebab munculnya gaya hidup kurang gerak tersebut. Era teknologi yang serba canggih membuat masyarakat cenderung lebih mengandalkan gawai (gadget) mereka untuk mempermudah dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berbelanja, memesan makanan, dan menggunakan jasa transportasi.

Tidak hanya sebagai alat bantu yang menawarkan berbagai kemudahan, sebagian masyarakat memanfaatkan teknologi bahkan hanya untuk menghabiskan waktu seharian dengan bermain game. Sebagian lagi memilih berselancar di dunia maya (browsing) mencari informasi di media sosial sambil tiduran.

Contoh lainnya, dengan adanya kemudahan teknologi, banyak orang yang lebih memilih menggunakan transportasi dalam jaringan/daring (online) daripada harus berjalan atau bersepeda. Padahal jarak yang ditempuh sebenarnya tidak begitu jauh. Kemudahan-kemudahan tersebut jelas membuat masyarakat menjadi kurang beraktivitas secara aktif.

Tak heran, dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, diketahui kalau sebanyak 26,1% proporsi penduduk Indonesia tergolong sebagai masyarakat dengan perilaku kurang gerak. Perilaku yang umumnya dilakukan adalah duduk atau berbaring terlalu lama, baik di tempat kerja, di rumah, atau dalam perjalanan. Dimana aktivitas-aktivitas yang dilakukan seperti menggunakan komputer, menonton televisi, mendengarkan musik, memainkan game, membaca, dan lain-lain.

Selain itu, hasil Riskesdas juga menyebutkan bahwa terdapat 22 provinsi di Indonesia yang penduduknya dikategorikan sebagai masyarakat berperilaku kurang gerak, dengan angka di atas rata-rata. DKI Jakarta adalah salah satu provinsi dengan angka perilaku kurang gerak tertinggi dengan persentase mencapai 44,2%.

Angka tersebut bisa meningkat seiring dengan terus berkembangnya teknologi digital yang menawarkan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan setiap aktivitas. Di mana hal ini secara tidak langsung telah mengubah tatanan kehidupan, salah satunya adalah perubahan perilaku dan munculnya gaya hidup sedentary.

Risiko Kesehatan
Sebagaimana diketahui bahwa gaya hidup sedentary dapat menyebabkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Hal ini dibenarkan oleh drg. Kartini Rustandi, M.Kes, selaku Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan.

Beberapa penelitian juga pernah dilakukan terkait dengan bagaimana sedentary dapat memengaruhi penurunan kualitas kesehatan dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM). Seperti penelitian yang dilakukan Arundhana, dkk (2013) dan Mandriyarini, dkk (2017). Di mana dalam kedua penelitian tersebut menyatakan bahwa perilaku sedentary sebagai salah satu faktor risiko kejadian obesitas (berat badan berlebih) di beberapa kota di Indonesia, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kota Semarang.

Penelitian lain tentang perilaku sedentary yang menggunakan kriteria nilai batas < 3 jam, 3-5,9 jam, dan ≥ 6 jam, menunjukkan bahwa pengurangan sedentary sampai dengan < 3 jam per hari dapat meningkatkan umur harapan hidup sebesar 2 tahun (Katzmarzyk & Lee, 2012). Dalam skala global, perilaku sedentary diperkirakan menimbulkan biaya pelayanan kesehatan dalam1 tahun hingga mencapai 54 miliar dolar AS, dengan 57% dari komposisi tersebut ditanggung oleh pemerintah.

Upaya Pemerintah
Sebagai respons atas terjadinya fenomena gaya hidup sedentary di Indonesia, pemerintah telah mencanangkan program nasional melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Program yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan tersebut dibuat sebagai salah satu upaya promotif dan preventif yang dilaksanakan melalui kerja sama lintas sektor dalam bentuk kegiatan-kegiatan sistematis dan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat.

Salah satu contoh dukungan lintas sektor yang telah dilakukan adalah dengan menyelenggarakan kerja sama dengan sektor bisnis. Ini dilakukan melalui kampanye dalam bentuk kegiatan jalan santai, bersepeda, dan perlombaan lari untuk kalangan umum yang diselenggarakan di beberapa kota dalam upaya mengajak masyarakat untuk lebih aktif bergerak.

Tahun 2018, program GERMAS diperkuat melalui beberapa strategi. Di antaranya adalah dengan memperluas jangkauan komitmen di luar sektor kesehatan (sekolah, akademisi, organisasi masyarakat, dan media massa) untuk membudayakan hidup sehat. Selain itu, juga dilakukan dengan memperkuat forum diskusi lintas program, memperkuat sinergi dengan
pemerintah daerah baik di tingkat provinsi ataupun di tingkat kabupaten dan kota, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai media.

Fokus dari program GERMAS, selain mengajak masyarakat untuk membiasakan diri melakukan aktivitas fisik, juga mengajak masyarakat untuk lebih menjaga pola makan. Yakni dengan mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, dan memeriksa kesehatan secara rutin.

Diharapkan langkah-langkah tersebut dapat mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat dan terhindar dari berbagai risiko penyakit. Upaya melawan gaya hidup sedentary menjadi salah satu bagian penting dalam rangka menuju masyarakat yang sehat sehingga tercipta generasi bangsa yang lebih produktif dan berkualitas.
(Disadur dari : Mediakom, Editor: Sopia Siregar, http://mediakom.sehatnegeriku.com)