Seluk Beluk Hipertensi di Usia Lanjut

Oleh : dr. Hj. Ratih Tedjasukmana Dadang

Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013, penderita hipertensi di Indonesia mencapai 25,8%, artinya dari setiap 4 orang Indonesia 1 orang diantaranya menderita hipertensi. Hipertensi sering disebut pembunuh dalam diam atau silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala. Kebanyakan orang tidak merasa sakit ketika tekanan darah mereka meningkat. Dan seringkali Hipertensi berjalan tidak diobati sampai kondisi medis lain muncul. Hal ini terungkap dalam seminar sehari lansia dengan tema “Mengelola Hipertensi Pada Lanjut Usia” dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53 dengan pembicara dr H Dani Farid Abdullah Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Medika Citra Utama, Kabupaten Tasikmalaya.

 

Penyebab Hipertensi Pada Usia Lanjut :
Beberapa hal bisa menyebabkan munculnya hipertensi di usia lanjut. 4 hal berikut bisa Anda kenali untuk mengatisipasinya.

  1. Adanya kekakuan pada dinding arteri besar
    Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
  2. Peningkatan konsentrasi Renin
    Kenaikan tekanan darah secara kumulatif dipengaruhi oleh Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS), yang akhirnya berpengaruh terhadap tekanan darah arteri.
  3. Asupan sodium atau garam yang berlebihan.
    Karena organ pencecap lansia sudah berkurang tingkat sensitifitasnya maka agar makanan tidak hambar diberi garam sebanyak banyaknya. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah.Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga meningkat. Harus diwaspadai bahwa yang namanya garam itu bukan hanya garam dapur saja tapi garam dapur dalam bentuk pengawet mencakup natrium benzoate sebagai pengawet buah buahan dalam kemasan kaleng, MSG atau mono sodium glutamat, nitrit atau sendawa untuk pengempuk daging dan soda kue untuk mengembangkan kue. Sehingga meskipun lansia tidak makan garam dapur tapi kalau mengosumsi hal-hal tersebut, tetap saja tekanan darah lansia susah turun.
  4. White coat hypertension atau pseudohypertension.
    White coat hypertension ini sering dialami lansia, terjadi karena pasien mengalami stres sewaktu datang memenuhi janji untuk kontrol ke dokter dan bisa jadi merupakan alarm bagi pasien tersebut bahwa ia memiliki risiko penyakit tekanan darah tinggi di masa mendatang. Hal ini juga sama terjadi pada pasien dimana tekanan darahnya normal, namun kadang kala mengalami peningkatan pada saat-saat tertentu.

 

Jenis Hipertensi Pada Usia Lanjut :
Di usia lanjut dikenal ada 2 jenis hipertensi yang dialami oleh individu. Berikut penjelasan dari masing-masing jenisnya:

  1. Hipertensi Sistolik Terisolasi
    Tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah. Tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Jenis hipertensi ini disebabkan oleh umur, mengkonsumsi tembakau, diabetes, dan diet yang salah.
  2. Hipertensi Sistolik Diastolik
    Tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg

Cara Mendiagnosis Hipertensi Lansia
Diagnosis hipertensi pada usia lanjut dapat dikenali melalui beberapa hal berikut.

  • Anamnesis yang baik
    Kebanyakan penderita hipertensi pada usia lanjut tidak memiliki gejala (asimtomatik). Riwayat penyakit dan perjalanan penyakit pasien harus diarahkan, keluhan pasien, penyakit komorhid, status nutrisi, gangguan psikologik maupun kognitik.
  • Pemeriksaan fisik menyeluruh.
    Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengkonfirmasi hipertensi dan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab dari hipertensi. Hasil pemeriksaan fisik diarahkan kepada adanya penurunan fisiologik akibat proses menua baik secara fisik maupun psikologik.
  • Pemeriksaan laboratorium dan penunjang rutin
    Pemeriksaan laboratorium dimaksudkan untuk menentukan ada tidaknya faktor risiko tambahan, mecari kemungkinan hipertensi sekunder dan kerusakan target organ. Pemeriksaan darah rutin
    lengkap, pemeriksaan fungsi ginjal, asam urat, elektrolit, panel metabolik, profil lipid, kadar gula
    darah puasa, tes fungsitiroid (thyroid stimulating hormone; TSH), urinalisia, EKG dan foto thoraks PA.
  • Sosial ekonomi
    Kondisi sosial ekonomi berpengaruh pada kepatuhan pasien dalam berobat.

Hipertensi Sekunder Pada Usia Lanjut
Hanya sepuluh persen kasus hipertensi yang masuk ke dalam kategori hipertensi sekunder, selebihnya adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.Umumnya penyebab hipertensi sekunder berkaitan dengan peningkatan produksi hormon, misalnya:

Penyakit Ginjal

  • Stenosis Arteri Renalis adalah penyempitan salah satu pembuluh atau lebih yang membawa darah ke ginjal (ginjal arteri).
  • Glomerular Nephritis Obstruktif
  • Ginjal Polikistik adalah kelainan ginjal yang ditandai dengan pembentukan kista non kanker yang merusak fungsi ginjal dan akhirnya menyebabkan gagal ginjal total, biasa disingkat PKD (Polycystic Kidney Disease).

Endokrin

  • Pheochromocytoma. Tumor pada kelenjar adrenal yang memproduksi hormone epinefrin (adrenalin) dan non epinefrin (non adrenalin) berlebih.
  • Hiperaldosteronisme (sindrom Conn). Berlebihnya produksi hormonal dosteron oleh kelenjar adrenal, yang dapat menghambat pengeluaran garam dari dalam tubuh.
  • Hiperkortisolisme (sindrom Cushing). Kelenjar adrenal memproduksi hormone kortisol secara berlebih. Keadaan ini bisa juga terjadi pada tumor kelenjar adrenal, baik ganas maupun jinak.
  • Hiperparatiroidisme. Meningkatnya produksi hormone paratiroid (parathormon) yang menyebabkan kadar kalsium meningkat. Pada penderita hiperparatiroidisme, hampir selalu ada hipertensi. Namun apa yang menyebabkan hipertensi tersebut masih belum jelas.

Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan anti inflamasi seperti NSAIDs dapat memicu terjadinya hipertensi. Selain itu obat-obatan seperti cyclooxygenase-2 inhibitor, gluco corticoid, erythropoietin analog, Disease Modifying Anti Rheumatic Drug (DMARD) misalnya leflunomide, immunesuppressan seperti cyclosoprindan tacrolimus, dan obat anti depresan seperti venlaxapine dosis tinggi bisa meningkatkan tekanan darah. Narkoba jenis kokain, ekstasi, nikotin dan stimulansia seperti methyl phenidate penggunaan dan reaksi putus obatnya juga dapat dihubungkan dengan hipertensi.

Diet Rendah Garam Penderita hipertensi
Rata-rata orang Asia mengkonsumsi garam 2 kali lipat lebih banyak dari batas rekomendasi, yaitu 12gr/hari. Anjuran normalnya adalah 6gr/hari atau 1 sendok teh garam yang mengandung kurang lebih 2000 mg natrium. Konsumsi garam berlebihan menyebabkan kadar garam di dalam tubuh terlalu tinggi. Kondisi ini menyebabkan keseimbangan cairan tubuh terganggu. Akibatnya, terjadi
retensi garam dan air dalam jaringan tubuh (endema) dan meningkatkan tekanan darah (hipertensi).

Nah, dengan diet rendah garam ini diharapkan jumlah garam yang dikeluarkan tubuh sama dengan jumlah garam yang dikonsumsi. Perlu diingat, bahwa garam yang dikonsumsi tubuh tidak hanya berasal dari garam dapur yang digunakan untuk memasak, namun juga berasal dari setiap bahan makanan yang kita makan.

Diet rendah garam dibagi menjadi beberapa tingkatan, sesuai dengan kondisi penderitanya, yaitu;

  • Diet rendah garam tingkat tinggi (200-400 mg Na)
    Diet ini diberikan kepada penderita hipertensi berat. Garam dapur sama sekali tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan yang disajikan.
  • Diet rendah garam tingkat II (600-800 mg Na)
    Pada diet ini penambahan garam hanya 1/2 sdt atau 2gr.
  • Diet rendah garam tingkat III (1000-1200 mg Na)
    Diet ini diberikan pada penderita hipertensi ringan. Dalam diet ini, 1 sdt atau 4gr garam dapur boleh ditambahkan dalam pengolahan makanan.

(Disadur dari Mediakom, http://mediakom.sehatnegeriku.com)