Waspadai Pengerat Pembawa Sakit Berat

Tikus si mamalia pengerat yang banyak berkeliaran di sekitar termasuk di rumah-rumah kita, dikenal sebagai hewan paling cepat berkembang biak. Kesenangannya pada tempat-tempat kotor dan jorok, menjadikan tikus menjadi salah satu binatang penyebab penyakit (zoonosis) paling mengancam dan berbahaya.

Berbagai penyakit berbahaya ditularkan oleh tikus kepada manusia baik melalui urinnya, gigitannya, atau bahkan lewat gigitan kutu (pinjal) yang menempel di tubuhnya. Sementara sampai saat ini cara pencegahan secara massal untuk mencegah penyebaran penyakit yang dibawa oleh tikus masih disusun.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc.,mengungkapkan sampai sekarang masyarakat banyak yang belum tahu bahwa 70% penyakit menular baru yang menyerang manusia disebabkan oleh zoonosis atau ditularkan oleh hewan. “Tingkat kematiannya pun sangat tinggi, yaitu 50-90%. Sebab penyakit ini menyerang otak dan organ tubuh lainnya. Selain itu, dampaknya terhadap perekonomian juga sangat besar,” kata Jane.

Dia menuturkan, saat ini ada lebih dari 250 binatang yang berpotensi bisa menularkan penyakit ke manusia. Di Indonesia sendiri, ada 132 spesies patogen yang bersifat zoonosis. Khusus populasi tikus, di Indonesia terdapat 34 genus dan 171 spesies tikus. Di mana, di Pulau Jawa sendiri, terdapat 10 genus dan 22 spesies tikus. Dari jumlah tersebut ada 8 spesies dilaporkan berpotensi sebagai reservoir (sumber) penyakit. Jumlah ini, sebut Jane, tentu menjadi ancaman jika tidak diseriusi penanganannya. Di sisi lain, pemberantasan tikus juga terlalu banyak jika harus diatasi sendiri oleh pemerintah tanpa keterlibatan masyarakat.

“Membasmi tikus harus minimal satu blok perumahan, semua rumah harus sama-sama melakukan pemblokiran. Terpikir untuk mengajak masyarakat kreatif dan bergerak memasang perangkap melalui sebuah kompetisi,” cetus Jane. Tikus, menurut dia, berperan sebagai penular penyakit, baik secara langsung atau sebagai pembawa (vektor) misalnya melalui pinjal (kutu) yang hidup di tikus.

Penyakit yang disebarkan lewat tikus antara lain, pes, leptospirosis, rickettsia, salmonellosis, rabies, rodent borne hemorrhagic fevers, lymphocytic choriomeningitis, trichinosis, dan hantavirus.

“Kasus pes terakhir terjadi 10 tahun lalu. Jadi seharusnya sudah keluar catatan global bahwa Indonesia bebas pes. Kami undang mereka untuk melengkapi dokumen surveilans pes,” jelas Jane.
Proses tersebut perlu untuk memenuhi persyaratan dari institusi kesehatan masyarakat federal,
The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), yang berpusat di Atlanta, Amerika Serikat.
Sebagai penguatnya, Indonesia menginventarisasi lingkungan dengan risiko pes tinggi. Baru
kemudian mendorong kantor-kantor pemerintahan untuk menyediakan dana pencegahan pes, agar program tetap berlanjut.

“Kemenkes tetap mendorong masyarakat untuk membersihkan rumah masing-masing dengan
menghilangkan tempat bersarang tikus dan membuang sampah pada tempatnya sebagai cara tepat dan murah untuk mengendalikan tikus penular penyakit di sekitar kita,” urai Jane.

 

Kenali Penyakit Berbahaya dari Tikus

Meski memiliki wujud hampir sama, tikus memiliki habitat dan menularkan penyakit yang berbeda-beda kepada manusia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Kementerian Kesehatan menyusun daftar penyakit paling berbahaya dari binatang pengerat ini:

Pes
Pes disebut juga penyakit sampar, plague, atau black death. Penyakit ini ditularkan dari binatang pengerat (terutama tikus) melalui perantara kutu (flea/pinjal). Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pseudotuberculosis (Y pestis). Gejala penyakit pes adalah terjadinya pembengkakan kelenjar limfa pada selangkangan dan ketiak. Pes ditularkan dengan perantara gigitan kutu tikus atau pinjal Xenopsylla cheopis. Habitat hidup pinjal ini adalah di rambut dan kulit tikus. Tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus ladang (Rattus exulans), dan tikus pohon (Rattus tiomanicus) disebut-sebut sebagai reservoir penyakit pes tersebut.

Leptospirosis
Penyakit kuning adalah nama lain dari leptospirosis yang dikenal orang awam. Bakteri Leptospira icterohaemorrhagiae menjadi sumber penyakit yang ditemui dalam ginjal dan urine tikus. Leptospirosis ditularkan karena kontak dengan urine, jaringan, atau air yang mengandung bakteri ini. Lalu masuk melalui mukosa (selaput lendir) atau karena garukan pada kulit. Jadi, tidak melalui perantara pinjal seperti pada pes. Gejala penyakit ini mirip dengan gejala influenza. Ditandai dengan demam, sakit kepala, diare, kedinginan, muntah, konjungtivitis (mata merah), meningitis (infeksi selaput otak), sakit kuning dan perdarahan pada kulit dan membran mukosa, bahkan terjadi kerusakan pada ginjal. Tikus rumah dan tikus sawah menjadi pembawa penyakit tersebut. Begitu pula dengan tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus wirok (Bandicota indica) yang berdiam di kebun dan halaman rumah.

Rickettsia
Rickettsia termasuk jenis kuman tipe khusus yang menjadi parasit pada sel hewan vertebrata dan artropoda dengan vektor pinjal dan tungau. Terkait penyakit yang berhubungan dengan tikus adalah adanya penyakit Murine Typhus (tifus endemik) yang ditularkan oleh Rickettsia typhi melalui gigitan pinjal Xenopsylla cheopis. Gigitan pinjal menimbulkan rasa gatal yang kemudian digaruk dan terjadi luka. Lalu, patogen masuk ke aliran darah melalui luka tersebut. Gejala penyakit ini pada manusia adalah sakit kepala, kedinginan, hingga demam dan nyeri di seluruh tubuh. Bintil-bintil merah pada kulit timbul di hari kelima sampai keenam.

Rodent-borne hemorrhagic fevers
Rodent-borne hemorrhagic fevers atau Demam Lassa merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh virus dari kelompok Arenavirus. Penyakit ini disebarkan tikus Mastomys natalensis (tikus berbulu lunak) sebagai vektor utama. Penularan terjadi melalui sekresi hidung, feses, dan urine tikus. Gejala penyakit ini nampak selama 1-4 minggu, berupa malaise (lesu dan lemah), demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, mual, muntah, diare, nyeri otot, nyeri di dada dan perut, pembengkakan pada kelenjar limfa, dan pembengkakan pada leher.

Lymphocytic choriomeningitis (LCM)
Virus LCM menjadi penyebab penyakit yang bergejala mirip dengan influenza. Penyakit ini dapat menular ke manusia terutama oleh mencit rumah (Mus musculus) dan hamster Suriah. Cara penularannya melalui makanan atau debu yang kontak dengan feses, urine, atau air liur mencit. Jika penyakit terus berlanjut akan timbul gejala mengantuk, gangguan refleks, paralisis,
dan anestesia kulit.

Rabies
Gigitan seluruh spesies tikus ternyata juga berisiko menularkan penyakit rabies.

Rat bite fever
Penyakit ini disebut juga demam yang terjadi karena gigitan tikus. Umumnya terjadi pada anak-anak, dengan masa inkubasi 1-22 hari (ratarata 10 hari). Gejala yang timbul dari penyakit ini adalah kedinginan, demam, sakit kepala, serta muntah. Penyakit ini disebabkan bakteri Spirillum minus dan Streptobacillus moniliformis, yang ditemukan pada gusi, air liur, dan selaput lendir tikus.

Trichinosis
Penyakit ini ditularkan cacing otot (Trichinella spiralis). Ini terjadi ketika larva dan kista cacing ini menginfeksi otot dan usus halus tikus atau babi. Infeksi pada tikus karena makan sisa daging babi setengah matang pada sampah. Sedangkan infeksi pada babi karena makan pakan yang terkontaminasi feses tikus. Penularan pada manusia karena mengonsumsi daging babi yang tidak higienis.

Hantavirus
Hantavirus menyerang paruparu dan ginjal manusia akibat virus hantavirus pulmonary syndrome.
Virus ini biasanya menyerang pekerja pengendali hama. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan alat pelindung diri yang terstandarisasi.

(Disadur dari Mediakom, Penulis: Indah Wulandari, http://mediakom.sehatnegeriku.com)