Gaya Hidup Sehat, Ginjal Sehat!

Peringatan hari ginjal sedunia yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 8 Maret dijadikan sarana promosi kepada masyarakat untuk memodifikasi gaya hidup ke arah yang sehat.“Gaya hidup yang harus dimodifikasi, ini mudah (gaya hidup sehat) cuma harus konsisten,” ujar Dr. dr. Ria Bandiara, Sp.PD-KGH dalam dalam acara Talkshow Eksklusif Siaran Radio Kesehatan pada tanggal 8 Maret 2018, pukul 15.00 WIB lalu.

Menurut dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung ini modifikasi gaya hidup sehat yang dapat dilakukan masyarakat yakni dengan cara melakukan olahraga teratur, makan sayur dan buah, menghindari rokok. Selain itu bagi penderita diabetes harus mengendalikan gula darah dan untuk penderita darah tinggi harus mengendalikan tekanan darah.

Ada beberapa penyakit yang dapat memicu timbulnya penyakit ginjal kronik. “Pertama adalah diabetes sekitar 26%, kedua adalah hipertensi, selanjutnya adalah infeksi dan batu ginjal karena bisa menyebabkan ginjal kronik, mereka termasuk resiko tinggi untuk terkena gangguan ginjal,” jelas dokter sub spesialis penyakit dalam ginjal dan hipertensi ini.

Perempuan Lebih Berisiko
Berkaitan dengan tema hari ginjal sedunia yang pada tahun ini mengangkat tema ‘Ginjal dan Kesehatan Perempuan: Rangkul, Hargai, dan Berdayakan’, Ria mengatakan bahwa risiko perempuan untuk terkena penyakit ginjal dibandingkan laki-laki memang lebih tinggi. Sebagai contoh, kata Ria, pada perempuan sering terjadi infeksi saluran kemih karena saluran kemih perempuan lebih pendek daripada pria. Selain itu juga ada beberapa kasus pada ibu hamil yang mengalami tekanan darah tinggi sehingga setelah bayi lahir bisa memicu terjadi gangguan ginjal.

“Kita sebut Preeklamsia kalau sudah terjadi peningkatan tekanan darah pada saat kehamilan, setelah bayi lahir bisa memicu terjadi gangguan ginjal. Penyakit kanker leher Rahim juga bisa menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Penyakit auto imun atau lupus biasa menyerang wanita pada usia dewasa muda. Itu jadi mengapa populasi prevalensi penyebab penyakit ginjal pada wanita lebih tinggi daripada pria,” terang Ria.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), dr. Aida Lydia, PhD, Sp.PD-KGH, pada forum diskusi kerja sama Kemenkes RI dengan Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2018 menyebutkan bahwa perempuan yang menderita penyakit ginjal kronik pada saat hamil, berisiko tinggi mengalami abortus (keguguran).

“Kalaupun janin bertahan dalam kehamilan, seringkali berat badan bayi yang dilahirkannya rendah. Perlu diketahui, bahwa bayi yang berat badan saat lahir rendah, memiliki jumlah nefron yang lebih sedikit sehingga dia mempunyai risiko yang lebih tinggi mempunyai masalah ginjal kronis pada saat dewasa”, sebut Aida sebagaimana dilansir oleh sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Lebih lanjut Ria menyebutkan bahwa resiko ibu hamil yang rentan terkena penyakit ginjal adalah mereka yang hamil saat usia masih muda atau di bawah 20 tahun dan juga bagi perempuan yang hamil di atas usia 40 tahun. “Kami perlu mengedukasi kepada masyarakat bahwa kehamilan itu jangan pada usia muda di bawah 20 tahun karena bisa menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian pada wanita bisa tinggi,” imbuhnya.

Transplantasi Ginjal dan Cuci Darah
Ria menambahkan, ada 5 kategori stadium pada penderita penyakit ginjal dimana bagi yang sudah menderita stadium 5 atau telah masuk ke tahap terminal maka sulit untuk benar-benar pulih. Hal yang dapat dilakukan bagi pasien tahap terminal adalah dengan terapi pengganti ginjal yaitu dengan transplantasi ginjal. Namun tidak semua masyarakat mau melakukan ini karena berbagai pertimbangan sehingga diupayakan dengan cara terapi lain yakni dengan melakukan cuci darah yang bertujuan untuk memperlambat progresif dari penyakit ginjalnya sendiri.

Berdasarkan data sejak tahun 2006 hingga tahun 2017, pasien penyakit ginjal terus mengalami peningkatan hingga mencapai 10 persen di seluruh dunia. Untuk itu, harus dilakukan upaya preventif guna mencegah dan meningkatnya penderita penyakit ginjal.

“Saat ini yang harus dilakukan adalah preventif di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) karena pasien diabetes dan hipertensi kebanyakan di FKTP. Mereka harus melakukan pencegahan, supaya orang-orang yang terkena diabetes dan hipertensi tidak terkena penyakit ginjal kronis. Karena jika terkena penyakit ginjal kronis maka beban biaya kesehatan untuk penyakit ini sangat besar,” tutup Ria.

(Disadur dari : Mediakom, Penulis : Didit, http://mediakom.sehatnegeriku.com)