Program KIE Kespro Catin Kabupaten OKU

Hamil dan melahirkan adalah proses normal yang dialami setiap wanita, oleh karena itu seharusnya tidak ada kematian karena hamil dan melahirkan. Akan tetapi kenyataan di lapangan masih ditemukan tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Berdasarkan data Supas tahun 2015, AKI di Indonesia sebesar 305/100.000 KH hal ini berarti dalam 100.000 ibu yang melahirkan diantaranya ada 305 ibu yang meninggal disebabkan karena kehamilan, persalinan ataupun pada masa nifas. Demikian juga kematian bayi, menurut hasil Supas tahun 2015, AKB di Indonesia sebesar 23/1.000 KH artinya dari 1.000 kelahiran ada 23 bayi yang meninggal sampai dengan usia 11 bulan.

Penyebab kematian ibu melahirkan yang tertinggi saat ini masih disebabkan oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan dan infeksi, sedangkan penyebab kematian bayi yang terbesar adalah  gangguan pernafasan (asfiksia), Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), infeksi dan kelainan bawaan.

Intervensi program untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi sudah dilakukan dengan ANC terpadu secara menyeluruh selama kehamilan, dimana setiap ibu hamil harus mendapatkan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selama kehamilannya (1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III). Dalam pemeriksaan ini dapat diketahui apakah ibu hamil tersebut mengalami kehamilan yang normal atau kehamilan yang berisiko. Jika ibu hamil tersebut mengalami kehamilan yang berisiko maka  dalam perencanaan persalinannya ibu tersebut disarankan untuk melahirkan di sarana kesehatan yang lebih lengkap prasarananya (Rumah Sakit PONEK), sehingga diharapkan kondisi penyulit baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan dapat diminimalisir.

Ada kondisi risiko kehamilan tertentu yang seharusnya dapat dicegah, namun pada kenyatannya masih saja ditemukan dalam pelayanan kebidanan, yaitu kehamilan berisiko yang disebabkan karena usia ibu terlalu muda (< 20 tahun), usia ibu terlalu tua (>35 tahun), jarak antar kehamilan terlalu dekat (<2 tahun) dan terlalu banyak jumlah anak (>3 anak). Berdasarkan hasil SDKI tahun 2012 diketahui angka kelahiran pada usia remaja (ASFR) sebesar 48/1.000, hal ini berarti dalam 1.000 kehamilan terdapat 48 ibu hamil pada usia remaja (<18 tahun) dan berdasarkan laporan Program PKPR Kabupaten OKU tahun 2017 ditemukan 31 orang remaja hamil yang merupakan kehamilan yang tak diinginkan.

Karena kenyataan ini masih belum dapat dihindari, oleh karena itu perlu dilakukan upaya preventif mulai dari usia remaja untuk menghindari kehamilan yang tak diinginkan dan  intervensi lebih di hulu lagi  dengan cara memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi dan peningkatan kesehatan pada masa sebelum hamil. Diharapkan setelah mendapatkan pengetahuan kesehatan reproduksi, remaja usia < 20 tahun tidak menjadi hamil kemudian terpaksa menikah sebelum usia 20 tahun. Jika ternyata sudah hamil juga sebelum usia 20 tahun, diharapkan jangan menutupi kehamilannya dan segera memeriksakan kehamilannya kepada petugas kesehatan agar segera mendapatkan pelayanan ANC sesuai dengan standar.

Salah satu kegiatan unggulan program Kesehatan Ibu dalam Penurunan AKI tahun 2018 adalah KIE Kespro Catin. Sampai saat ini kegiatan yang sudah dilakukan adalah sosialisasi kesehatan reproduksi catin dengan sasaran 10 Puskesmas dan 6 orang dari Kantor Urusan Agama Kabupaten Ogan Komering Ulu yang kemudian ditindaklanjuti dengan MOU antara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKU dan Kepala Kantor Kementerian  Agama Kabupaten OKU.

MOU Kadinkes Kab. OKU dengan Kakemenag OKU

Kegiatan kespro catin meliputi pemeriksaan status gizi, status imunisasi TT, pemeriksaan laboratorium (kadar Hb, test pack, urin protein, gula darah, kadar HBSAg, pemeriksaan Sifilis dan Thalasemia), integrasi program (PMTCT dan TB), konseling dan pemberian imunisasi TT berdasarkan hasil screning TT. Berbagai pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui status kesehatan catin sebelum menikah, apabila ditemukan calon pengantin tersebut menderita penyakit tertentu maka harus segera melakukan pengobatan terlebih dahulu sebelum calon ibu menjadi hamil agar pada saat hamil kondisi ibu benar-benar dalam keadaan yang sehat.

Konseling catin

Imunisasi TT Catin

Setelah dilakukan konseling dan pemeriksaan laboratorium, pasangan catin akan diberi Kartu Kesehatan Reproduksi Catin yang berwarna kuning untuk catin dan Kartu Keterangan Sehat yang berwarna putih untuk diserahkan ke KUA sebagai salah satu persyaratan yang harus dilengkapi sebelum akad nikah dilaksanakan.

Contoh Kartu Catin

Contoh Kartu Keterangan Sehat Catin

Untuk mendapatkan kartu catin ini, calon pengantin harus mengikuti prosedur sebagaimana tersebut dalam alur berikut ini :

Permasalahan dan hambatan

  1. Pelayanan Kespro Catin masih belum dilaksanakan di seluruh Puskesmas di Kabupaten OKU
  2. Ketersediaan sarana laboratorium terbatas seperti HB Sahli/HB Digital, Reagen Golongan Darah, Protein Test, dan lain-lain
  3. Masalah pembiayaan pemeriksaan Kespro Catin masih menjadi kendala.
  4. Komitmen dan koordinasi antara puskesmas dan KUA Kecamatan belum optimal.
  5. Masih lemahnya Pencatatan dan Pelaporan Kespro Catin, salah satunya disebabkan karena belum tersedia secara memadai kartu sehat kespro catin, kartu kespro catin, kohort kespro catin dan blanko laporan kespro catin.

Keberlangsungan Program Kespro Catin memerlukan komitmen dan koordinasi yang berkesinambungan antara Dinas Kesehatan/Puskesmas dengan LS (Kemenag/KUA Kecamatan, TP-PKK, Capil, Camat, Kades/Lurah)  serta dukungan dan komitmen dari berbagai jenjang. Selain itu juga perlu ada fasilitasi sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan Pelayanan Kespro Catin di Kab. OKU (Rusmini Wiyati&Rizki Wulandari, SKM)